melisa arieviana mader

Melissa Arieviana Tentang Tidak Sengaja Menjadi Desainer Sepatu

20 June 2020

Stella Mailoa

Seperti tersirat dari namanya, Mader, awalnya merupakan label busana untuk ibu menyusui. Idenya sederhana, Melissa Arieviana yang saat itu tengah menyusui, agak kesulitan menemukan baju yang ia anggap praktis dan “enggak terlalu ibu-ibu”. Setelah beberapa saat Ia kembali membutuhkan sesuatu yang tidak ia temukan di pasaran. Keinginannya untuk mendapatkan sandal crossover lebar yang sesuai akhirnya memulai perjalanan Mader sebagai salah satu label footwear lokal yang berkualitas. Lebih dari sekadar footwear, di masa pandemi ini juga Mader berkolaborasi mendesain masker untuk sejumlah label seperti Masker Untuk Indonesia dan Maybelline.

Dari kenyamanan rumahnya, Melissa menceritakan tentang memori pertamanya dengan sepatu, peralihan karier dari desainer grafis menjadi desainer footwear, serta kesehariannya sebagai desainer, istri, dan ibu dua orang anak.

Written (W): Apa memori paling awal kamu tentang sepatu atau sandal?

Melissa Arieviana (MA): Hmmm… sepasang Dr. Martens ankle warna merah saat masih SD. Saat itu kalau ketemu orang yang saya lihat sepatunya, bukan mukanya hahaha. Setiap kali ada yang pakai sepatu Doc Mart, saya ngiler banget. Setelah penantian sekitar 1-2 tahun, saya akhirnya punya sepasang Doc Mart sendiri. Saya sayang banget sama sepatu itu, selalu dilap. Saya naksir karena solnya yang bening kecokelatan dan ada jahitannya.

W: Ternyata ketertarikan pada sepatu dari kecil ya?

MA: Iya ya, baru sadar juga pas tadi ditanya.

W: Apa yang dilihat pertama kali dari sepasang sepatu atau sandal?

MA: Yang pasti desainnya. Lalu perpaduan warna, lantas detailnya. Karena sekarang sudah produksi footwear sendiri,  saya agak mengulik sedikit bagaimana cara membuatnya.

W: Seperti apa hasil desain sepatu atau sandal pertama kamu?

MA: Ketika kuliah semester akhir, ketika sepatu Keds belum masuk Indonesia, saya sempat mencari-cari sepatu slip on. Pas jalan-jalan di sebuah mal, saya melihat ada yang menjual sepatu kungfu. Nah, saya rombak sedikit, menggunting bagian atasnya, dan menutup bekas guntingan dengan pita berwarna hijau stabilo. Kata teman saya, “Beli dimana sih sepatu kayak gitu, lucu banget”.

W: Menurut kamu, itu bakat natural ga?

MA: Kayaknya natural ya, karena kadang tanpa disadari dan hanya karena ingin keren aja. Tapi ada faktor ini sih, hmmm keterbatasan. Faktor ini yang memicu otak untuk berpikir kreatif.

W: Kenapa akhirnya memutuskan untuk beralih dari desainer grafis menjadi desainer sepatu?

MA: Nah, ini juga enggak sengaja. Masuk desain grafis pun juga awalnya tidak sengaja. Yang pasti, saya enggak suka belajar, sukanya ngayal.

W: Bagaimana cerita tentang model sandal pertama Mader?

MA: Sama juga, karena lagi ingin model crossover yang lebar, enggak ada yang jual. Revisi sampai empat kali (bayar terus tuh ?), dan akhirnya pas. Saya lalu tambahkan aksesori.

W: Jadi perjalanan artistik kamu diawali dengan sedang menginginkan apa, tidak tersedia, jadi ya dibuat saja?

MA: Kira-kira begitulah.

W: Kolaborasi dengan suami di Mader seperti apa?

MA: Dia mendukung dari awal ketika Mader masih jadi label baju ibu menyusui. Sekarang pembagiannya, dia menangani bisnis, saya berurusan dengan desain dan koleksi. 

W: Belajar mendesain footwear dari mana?

MA: Otodidak sih. Manfaat dari ilmu desain grafis, ilmu warna, dan hasil perdebatan sepasang suami istri perihal warna dan keharmonisan desainnya. Saya juga banyak melihat. Kebetulan, saya sangat memperhatikan detail. Saya banyak mengambil referensi dari brand-brand luar tentang bagaimana cara mereka membuat koleksi. 

W: Proses belajarnya cepat?

MA: Cepat, karena suka dan mau sepertinya ya. Enggak deh, lumayan lah.

W: Bingung cara menjawabnya karena sampai sekarang masih belajar?

MA: Ya benar, itu dia!

W: Desain footwear yang baik itu seperti apa sih?

MA: Footwear yang dapat menciptakan rasa percaya diri bagi si pemakai. Melangkah dengan pasti.

W: Kalau bisa mendesain sepatu buat siapa saja, maunya buat siapa? Kenapa?

MA: Bu Iriana, Ibu Presiden RI sekarang. Kenapa, karena akan sangat membanggakan, apalagi kalau beliau suka. Ibu negara menggunakan dan mendukung karya anak bangsa. 

W: Seberapa sering kamu mendesain/bekerja?

MA: Saya kerjanya Senin sampai Jumat. Serutin itu mendesain. Kalau jelek, buat lagi. Desain final tergantung hasil diskusi tim.

W: Ada berapa orang di Tim Mader?

MA: Totalnya 11 orang dengan saya.

W: Punya semacam “seragam” tertentu ketika lagi mendesain?

MA: Bebas saja, sama seperti dulu ke kantor majalah Bazaar ( Melisa Arieviana ) sempat bekerja sebagai desainer grafis di majalah Harper’s Bazaar Indonesia).

W: Sumber inspirasi terbesar dari mana?

MA: Berbagai hal bisa menjadi inspirasi. Bahkan Anda pun bisa menjadi inspirasi buat saya. Yang terbesar mungkin adalah Indonesia, kekayaan budaya, dan kearifan lokalnya. Saya sempat buat koleksi A Touch of Heritage yang terinspirasi dari tiga budaya. Dari rumah Batak, nama koleksinya Gorga, koleksi ini kolaborasi dengan The Goods Dept. Yang kedua dari batik Peranakan Cina bermotif phoenix atau burung hong. Burung enggang pun sempat menjadi inspirasi.

W: Musik apa yang didengarkan saat sedang bekerja?

MA: Hmmm pertanyaannya makin susah ya. Macam-macam sih dari Rich Brian, Payung Teduh, The Weeknd, lagu Hindia, sampai lagu yang ada di TikTok.

W: Kamu TikTok-an juga?

MA: Ya, biar tetap waras stay at home, saya iseng main TikTok.

W: Warna favorit?

MA: Hijau.

W: Siapa seniman atau desainer paling keren yang masih hidup sekarang?

MA: Virgil Abloh dan Alessandro Michele tentu saja.

View this post on Instagram

essentially

A post shared by @ virgilabloh on

W: Bagaimana cara juggle peran jadi ibu dua anak, istri, dan desainer?

MA: Membagi waktu untuk masing-masing dan menjadikannya prioritas sesuai pembagian itu.

W: Kamu olahraga juga kah?

MA: Harus biar enggak stres dan awet muda. Cardio saja yang penting, toning sebagai bumbu.

W: Daily mantra-nya apa?

MA: Tergantung kasus hari itu. Biasanya: Ayo dong, ayo kamu bisa, Cha; Stay positive; Lumayan Cha, not bad ( Melisa Arieviana juga akrab disapa Ucha oleh teman-temannya). Kalau kamu mantranya apa?

W: Hmmm. Hari ini makan apa ya? Biar termotivasi dan pekerjaan jadi cepat selesai.

MA: Hahaha, iya bisa juga begitu ya. 

W: Tiap bangun pagi, apa yg paling pertama dilakukan?

MA: Mengurus anak-anak.

W: Apa yang dilakukan saat me time?

MA: Nonton drakor (drama Korea). Namanya juga ibu-ibu. Netflix and chill dong ah.

W: What’s next buat Mader?

MA: Yang pasti, go international. Alhamdulillah sudah pernah ada  stockist di Melbourne dan Kuala Lumpur. Sempat ikut show juga di Belanda, walaupun bukan fashion week.

Jangan lupa untuk mengecek Instagram resmi Mader Official dan situs mdrstore.com untuk melihat kreasi terbaru Melisa.

Share:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on email

Artikel Lainnya