
Bagi penggiat dunia desain dan arsitektur, rasanya kurang lengkap kalau belum membicarakan perhelatan akbar Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2026 pada awal bulan Maret kemarin. Diselenggarakan pada 5 hingga 8 Maret 2026 di ICE BSD City , pameran kolaborasi antara Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) dan Dyandra Promosindo ini sukses menyulap area ekshibisi menjadi pusat pameran inovasi desain kelas dunia.
Kali ini IFEX 2026 tampil lebih segar dan masif dengan menempati ICE BSD sebagai venue baru seluas 85 ribu meter persegi. Ruang eksplorasi yang luas ini tidak hanya memanjakan buyers internasional, tetapi juga menjadi playground visual bagi para pencinta desain yang selalu haus akan referensi tren terbaru. Dari pameran ini, terlihat jelas bahwa produk furnitur lokal kita memiliki daya saing yang sangat kuat di pasar global.

Tren Wellness Living: Saat Alam Pindah ke Dalam Ruangan
Satu hal yang paling mencuri perhatian dari gelaran tahun ini adalah menguatnya tren wellness living. Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat dan terburu-buru, semakin banyak pemilik properti yang mendambakan ruang hunian dengan suasana tenang, nyaman, dan seolah menyatu dengan alam.
Tren ini tercermin dari antusiasme pasar domestik yang sangat positif, khususnya untuk proyek-proyek di sektor properti seperti hunian sewa jangka pendek dan konsep akomodasi sejenis. Karya-karya yang menonjolkan material alami seperti batu, kayu solid, dan aneka serat alam menjadi primadona yang paling banyak dicari oleh pengunjung. Sentuhan material mentah semacam ini terbukti ampuh memberikan vibe yang grounding pada sebuah ruangan.
Lebih dari Sekadar Cantik: Sustainability Jadi Harga Mati
Desain yang ideal saat ini bukan hanya soal estetika visual, tapi juga tentang tanggung jawab lingkungan. Isu keberlanjutan atau sustainability benar-benar menjadi sorotan utama di IFEX 2026. Berbagai exhibitor berlomba-lomba memamerkan furnitur yang memanfaatkan material alami yang terbarukan seperti rotan, bambu, hingga jenis kayu tropis yang dikelola secara berkelanjutan.
Komitmen industri juga semakin transparan dengan banyaknya produk yang menggunakan kayu bersertifikasi standar legalitas. Tidak berhenti di situ, inovasi ramah lingkungan juga merambah ke ranah finishing lewat penggunaan bahan berbasis air (water-based finishing), hingga pemanfaatan material daur ulang. Pentingnya ekosistem yang berkelanjutan ini juga dibedah tuntas dalam sesi seminar “Industrial Ecosystem and Material Sustainability” di pameran tersebut.
“No New Design, No Business!”

Di balik pesona material alami, nyawa dari sebuah produk furnitur tentu saja ada pada racikan desainnya. Adhi Nugraha, Dewan Pakar Desain HIMKI, melontarkan pernyataan tajam yang sangat relevan dengan industri kreatif saat ini: “No New Design, No Business”. Menurutnya, tanpa adanya kebaruan desain, para pemain industri akan kesulitan mempertahankan daya saing di pasar global.
Hari ini, desain tidak lagi dilihat sebatas upaya untuk mempercantik produk. Sebuah mahakarya desain yang baik harus mampu terintegrasi dengan proses produksi, memahami selera pasar, serta mengawinkan fungsi optimal dengan estetika yang kuat. Guna mewujudkan ekosistem ini, HIMKI secara aktif mendorong lahirnya kolaborasi antara produsen dengan desainer muda lokal, salah satunya melalui inisiatif HIMKI Design Awards dan Youth Design Awards.
Secara keseluruhan, IFEX 2026 tidak hanya menjadi sebuah pameran transaksi bisnis B2B semata. Bagi industri kreatif, ajang ini adalah cerminan identitas bangsa yang semakin matang. Perpaduan harmonis antara inovasi desain, craftsmanship tingkat tinggi, dan komitmen pada praktik produksi yang bertanggung jawab menjadi bukti nyata bahwa furnitur Indonesia siap terus melenggang sebagai trendsetter di panggung dunia.