Mungkin jarang didengar, tetapi menjelajahi benua kuning tidak lengkap tanpa mengunjungi pusat literaturnya. Sebagaimana yang tertulis di situs resmi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, perpustakaan dibutuhkan karena:
- Menjadi pusat penyedia informasi terpercaya yang sudah diakui, dan dapat dipertanggungjawabkan.
- Sarana edukasi teruntuk anak bangsa, terutama para pelajar dan peneliti.
- Pusat mengumpulkan bukti sejarah, artefak, sampai naskah berharga untuk generasi seterusnya.
- Memberikan tempat yang aman dan nyaman untuk membaca dan berdiskusi.
Perpustakaan bukan lagi sekadar deretan rak berdebu, melainkan sebuah mahakarya arsitektur yang menggabungkan warisan budaya, sejarah, teknologi, sampai estetika. Bahkan, pemerintah berkewajiban menjamin ketersediaan layanan perpustakaan secara merata di Tanah Air. Ini dapat kamu temukan dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007, Pasal 7 ayat (1) butir c.
Sebelumnya, Written pernah membagikan tiga ruang baca favorit pilihan para editor. Sekarang gilirannya perpustakaan, ya!
1. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia – Jakarta, Indonesia

Sebagai salah satu primadona dalam daftar rekomendasi perpustakaan di Asia Tenggara, gedung ini memegang rekor sebagai perpustakaan tertinggi di dunia (126,3 meter). Tempat ini adalah simbol literasi modern Indonesia.
- Keunikan: Merupakan gedung perpustakaan tertinggi di dunia. Gedung 24 lantai ini menyimpan ribuan naskah kuno nusantara yang berharga dan diakui UNESCO.
- Panduan Akses: Gratis untuk umum. Kamu bisa mendaftar untuk menjadi member secara daring, atau datang langsung ke lantai 2. Sedangkan untuk WNA, wajib menunjukan paspor atau KITAS yang berlaku.
2. Espace Gabrielle Chanel – Shanghai, China

Bukan sekadar perpustakaan, ini adalah fashion statement on a next level! Pusat edukasi visual yang berlokasi di tengah metropolitan China. Sebuah perpaduan antara kemewahan dan literatur. Selain menyimpan 50,000 buku, space ini juga memiliki ruang pameran raksasa dengan latar belakang Sungai Huangpu. Sebanyak 300 kursi juga tersedia di teater Espace Gabrielle Chanel.
- Arsitek: Kazunari Sakamoto
- Estetika: Interior minimalis dengan sentuhan high-fashion.
- Keunikan: Peleburan unik antara dunia mode, literatur, dan seni.
- Panduan Akses: Terbuka untuk umum. Disarankan untuk melakukan pengecekan sebelum berkunjung karena sering dipakai untuk acara invitation-only.
3. Rotunda Gallery and Archives – Singapura

Terletak di dalam National Gallery Singapore, tempat ini adalah surganya pengagum seni dan sejarah yang tak ternilai. Salah satu perpustakaan di Singapura yang masih mempertahankan arsitektur aslinya.
- Arsitektur: Bergaya Neoklasik dengan kubah yang megah dan pilar-pilar yang kokoh.
- Arsitek: Studio Milou ditunjuk untuk melakukan renovasinya.
- Keunikan: Dahulu merupakan gedung Mahkamah Agung Singapura.
- Panduan Akses: Terbuka untuk umum dengan tiket masuk berbayar.
4. David Sassoon Library and Reading Room – Mumbai, India

Ikon bersejarah bergaya Gothic Victoria di jantung Mumbai yang kembali bersinar. David Sassoon Library & Reading Hall adalah salah satu library pertama yang dibangun di area ini pada tahun 1867. Sekarang, bangunan yang menjadi saksi bisu perkembangan kota Mumbai sejak abad ke-18 ini terdaftar dalam list Grade I Heritage Building.
- Fakta menarik: Melewati masa 16 bulan untuk restorasi.
- Estetika: Lantai keramik kuno dan furnitur kayu jati yang memberikan kesan vintage.
- Panduan Akses: Sayangnya, hanya dapat diakses oleh member. Namun, turis diperbolehkan melihat area taman dan fasad dengan izin.
5. Starfield Library Suwon – Seoul, Korea Selatan

Terletak di dalam pusat berbelanja Suwon. Ini adalah evolusi dari Starfield COEX yang legendaris dan viral, kini hadir dengan skala yang lebih masif dan meriah. Di edisi kedua, Starfield Library ini menampilkan rak buku setinggi 22 meter, yang sering disebut dengan book cathedral. Meski menjadi rumah untuk lebih dari 50,000 buku, perpustakaan yang terletak dari lantai 4 sampai lantai 7, ini lebih cocok disebut sebagai cultural hub.
- Keunikan: Menyediakan bagian khusus anak-anak.
- Panduan Akses: Gratis dan terletak di dalam Starfield Mall Suwon.
6. Tama Art University Library – Tokyo, Jepang

Karya arsitek legendaris, Toyo Ito, ini adalah representasi keindahan struktur beton minimalis. Mahakarya minimalis yang menjadi rujukan para mahasiswa arsitektur dunia.
- Arsitek: Toyo Ito (penerima Pritzker Architecture Prize tahun 2013).
- Desain: Deretan lengkungan (arch) dengan beton tipis yang saling bersilangan, menciptakan ruang terbuka tanpa sekat yang dinamis.
- Estetika: Mengikuti kontur tanah yang miring, memberikan dinamika ruang yang unik.
- Panduan Akses: Terbuka untuk mahasiswa. Sedangkan pengunjung perlu mengajukan izin melalui situs resmi Tama Art University.
7. Tianjin Binhai Library – Yancheng, China

Terletak di Binhai Cultural District Tinajin China, perpustakaan ini sering dijuluki “The Eye of Binhai” karena struktur bola besar di tengah ruangan yang menyerupai pupil mata. The Eye dipercaya menyimpan 1,2 juta buku yang tersebar dalam bangunan seluas 33.700 meter persegi ini.
- Arsitektur: Rak buku bertingkat yang membentuk garis-garis organik seperti topografi pegunungan.
- Arsitek: MVRDV (Belanda) bekerja sama dengan TUPDI (Tianjin Urban Planning and Design Institute).
- Panduan Akses: Gratis, namun pastikan untuk membawa identitas diri.