Meramu.id Hadirkan Pameran The Spaces We Don’t Say Out Loud

Dalam hidup sehari-hari, ada banyak perasaan yang kita rasakan tapi tak pernah benar-benar kita sampaikan. Seperti saat momen bangun pagi dengan banyak pikiran, lelah setelah menjalani hari yang panjang, rindu yang tak sempat disampaikan, atau kebahagiaan yang hadir sebentar lalu berlalu. Ada juga momen ketika kita ingin bercerita tapi tak memiliki pendengar atau saat merasa dekat dengan banyak orang namun tetap menyimpan rasa kesendirian. Perasaan-perasaan ini begitu akrab, namun seringkali kita biarkan lewat begitu saja.

Perasaan-perasaan sederhana namun dekat inilah yang menginspirasi lahirnya pameran The Spaces We Don’t Say Out Loud. Pameran akhir tahun ini dihadirkan oleh Meramu.id, sebuah online marketplace untuk karya seni original dari para seniman muda Indonesia yang membawa semangat Making Art Accessible. Melalui pameran ini, Meramu.id membuka ruang bagi perasaan-perasaan yang kerap kita simpan, agar dapat dilihat, dirasakan, dan dipahami bersama.

Melibatkan 10 seniman terpilih, The Spaces We Don’t Say Out Loud hadir sebagai pameran kolektif yang terasa personal dan membumi. Pameran ini tidak berusaha menghadirkan seni sebagai sesuatu yang berjarak atau sulit didekati. Sebaliknya, ia diciptakan sebagai ruang yang hangat dan inklusif, tempat siapapun dapat masuk, melambat sejenak, dan menemukan potongan cerita yang terasa dekat dengan hidupnya sendiri.

Salah satu karya lukisan di The Spaces We Don’t Say Out Loud. Sumber: Dokumentasi Written

Pameran ini berlangsung mulai 6 Desember 2025 hingga 31 Januari 2026 di Meramu Artspace, Jl. Lamandau III No. 6, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Ruang pamer dibuka setiap hari pukul 11.00 hingga 19.00 WIB, memberi waktu bagi pengunjung untuk menikmati karya dengan ritme yang tenang dan tanpa tekanan.

Melalui berbagai medium seperti lukisan, gambar, keramik, hingga karya tiga dimensi, para seniman menerjemahkan pengalaman batin dan keseharian ke dalam bahasa visual yang jujur dan mudah didekati. Karya-karya yang hadir tidak berusaha menjelaskan segalanya, tetapi mengajak pengunjung untuk berhenti, merasakan, dan mungkin mengenali kembali perasaan-perasaan yang pernah hadir dalam hidup mereka sendiri. Tentang hari yang terasa panjang, hubungan yang penuh dinamika, momen sendirian yang penuh pikiran, hingga usaha memahami diri di tengah rutinitas.

Karya tiga dimensi di The Spaces We Don’t Say Out Loud. Sumber: Dokumentasi Written

Sebagai pameran akhir tahun sekaligus penanda awal 2026, The Spaces We Don’t Say Out Loud menjadi ajakan untuk berhenti sejenak dan menoleh ke dalam. Pameran ini menghadirkan ruang untuk mengingat hal-hal kecil yang sering terlewat, sekaligus membangun dialog yang tenang antara seniman, karya, dan pengunjung. Di sini, seni tidak hanya menjadi sesuatu yang dilihat, tetapi juga dirasakan sebagai ruang aman untuk merasa dan terhubung.

“Melalui pameran ini, kami ingin menghadirkan seni sebagai ruang yang dekat dan terbuka. Bukan sesuatu yang jauh atau eksklusif, melainkan sesuatu yang bisa dirasakan bersama,” ujar tim Meramu.id. “Kami percaya bahwa seni memiliki peran penting dalam membantu kita memahami perasaan-perasaan yang sering kita simpan sendiri.”

Salah satu karya lukisan di The Spaces We Don’t Say Out Loud. Sumber: Dokumentasi Written

Melalui proses open call yang inklusif, Meramu.id terus berkomitmen mendukung pertumbuhan ekosistem seni yang lebih terbuka dan berkelanjutan di Indonesia. The Spaces We Don’t Say Out Loud menjadi bagian dari upaya tersebut, menghadirkan seni yang relevan dengan kehidupan sehari-hari dan memberi ruang bagi cerita-cerita yang sering terlewat.

Di tengah kesibukan dan kebisingan, pameran ini mengingatkan kita bahwa ada perasaan-perasaan yang layak didengar. Dan terkadang, seni adalah cara paling pelan dan paling jujur untuk mulai mendengarkannya.

Untuk informasi terbaru seputar pameran seni dan agenda kreatif lainnya, ikuti update informasinya di sini.

SHARE :
WhatsApp
Facebook
Twitter
Email
Artikel Lainnya