TrashStock: Festival Sampah Plastik Jadi Karya Seni

Sahiri

Another person’s trash is another person’s treasure. Ya, siapa sangka sampah yang kamu buang itu ternyata masih ada nilainya. Tentu saja kita tahu solusinya adalah daur ulang; di mana sampah bisa diolah kembali jadi produk yang bermanfaat. Tapi bagaimana bila sampah plastik dijadikan karya seni?

Menyulap sampah jadi objek seni sebetulnya bukan terobosan baru. Tapi sejak isu sampah—terutama plastik—semakin viral di beberapa tahun terakhir karena mencemari lingkungan, penanganannya secara bertanggung jawab pun jadi kian mendesak.  Para seniman pun lantas turut serta cari solusi. 

Satu seniman yang berkecimpung dalam “dunia” sampah adalah pemuda asal Bali, I Putu Hendra Arimbawa. Bersama Julien Goalabre, rekan sesama seniman, mereka menggelar Festival TrashStock pada 2015. Festival ini khusus menyajikan karya seni yang terbuat dari sampah plastik. Uniknya, selain tiket masuk (yang dibandrol murah, hanya 20ribu) opsi entri lainnya adalah dengan membawa sampah plastik.

“Sampah adalah masalah yang sangat serius di planet ini, apalagi Indonesia adalah negara kontributor sampah plastik terbesar kedua di dunia,” ujar Hendra. “Karena itu saya menciptakan Trashstock sebagai sarana edukasi bagi anak-anak muda untuk mengubah cara pandang mereka, tapi dengan cara yang keren dan menghibur.”

Mereka mengajak anak-anak sekolahan untuk turut terlibat dan menciptakan karya seni terbuat dari sampah plastik untuk dipajang dalam ekshibisi festival. Para murid dibebaskan untuk menciptakan karya seni apapun yang sesuai minat mereka, entah itu lukisan, instalasi, atau objek.

Hendra mengatakan ia memang mau menyediakan ruang di mana para murid bisa aktif terlibat. “Dulu, di sekolah, guru mengajak murid-murid untuk bersih-bersih lingkungan sekolah. Tapi di luar sekolah, kebiasaan tersebut tidak dipertahankan oleh guru-guru itu sendiri,” Hendra bercerita.

Dengan jadi partisipan, para siswa dituntut untuk kreatif dalam mengolah sampah yang mereka hasilkan sendiri atau yang mereka temukan di lingkungan sekitar. Sebagai trickle down effect, kesadaran akan peliknya masalah sampah pun jadi tinggi dan hal tersebut diharapkan dapat mereka share ke dalam ruang lingkup keluarga.

Sesuai dengan tagline festival—Musik, Artistik, Plastik—setiap gelaran festival Trashstock selalu dibarengi dengan musical performance. Tentunya, grup musik yang dimaksud adalah grup yang memiliki kesadaran sama, seperti Navicula (yang vokalisnya, Robby, memproduksi dokumenter Pulau Plastik) dan Nostress yang sering menciptakan lagu tentang alam.

Persoalan sampah saat ini memang tidak bisa disepelekan. Tiap individu wajib bertanggung jawab akan sampah yang mereka hasilkan sendiri. Konsep “sampah” sebetulnya hanya eksis di dunia manusia sebab tak ada yang namanya sampah di alam. Begitu juga dalam dunia seni—one person’s trash, is another person’s art.  

For more wasteless art, check out Trashstock IG @trashstockbali

SHARE :
WhatsApp
Facebook
Twitter
Email
Artikel Lainnya