Tapak Tumbuh karya Moire Rugs dan Eugenio Hendro menghadirkan sekam, tanah, dan serat alami sebagai lanskap desain di JIA Curated Bali 2026.

Kalau selama ini kita melihat sekam padi hanya sebagai sisa panen, tanah sebagai tempat tanaman tumbuh, dan serat alami dalam bentuk anyaman atau tekstil, kali ini material-material tersebut hadir dengan peran yang berbeda. Bukan sekadar bahan, tetapi menjadi bagian dari sebuah lanskap imersif yang mempertemukan material, alam, dan tangan manusia dalam satu ekologi desain.

Ide tersebut hadir melalui Tapak Tumbuh: A Landscape by MOIRE & Friends, sebuah instalasi yang digagas oleh Moire Rugs bersama product designer Eugenio Hendro dan sejumlah kolaborator lintas disiplin. Sebelum hadir di Bali, gagasan ini diperkenalkan melalui Singgah Session di showroom Moire Rugs, Dharmawangsa, Jakarta, yang mempertemukan media, desainer, dan pelaku industri kreatif untuk melihat lebih dekat konsep yang akan dibawa ke JIA Curated Bali 2026.

Bagi Eugenio Hendro, yang berperan sebagai product designer sekaligus konseptor Tapak Tumbuh, proyek ini berangkat dari keinginan untuk melihat kembali hubungan antara inovasi, material, dan alam. Kemajuan dalam desain, menurutnya, tidak harus membuat manusia semakin jauh dari sumber material maupun proses yang membentuknya.

"Tapak Tumbuh bukan soal menolak kemajuan, melainkan memastikan bahwa kemajuan tetap berakar pada hubungan yang utuh dengan tanah, material, dan proses yang melahirkannya. Kami ingin menunjukkan bahwa inovasi justru bisa tumbuh dari kedekatan dengan alam,” ujar Eugenio.

Baca juga: Eugenio Hendro Tentang Visi, Kolaborasi, dan Regenerasi Desainer

Material yang akan digunakan pada Tapak Tumbuh. Sumber: Upandabove

Instalasi ini mengajak pengunjung melihat perjalanan sebuah material, dari bentuk aslinya di alam hingga menjadi bagian dari sebuah ruang. Pengunjung dapat melihat bagaimana material yang sederhana diolah menjadi sesuatu yang memiliki fungsi baru, sekaligus melihat peran manusia dalam proses tersebut.

Seperti Planawood yang mengolah sekam padi yang biasanya dianggap sebagai limbah menjadi material untuk struktur paviliun. Singres Tiles menggunakan tanah untuk membuat hand-pressed tiles edisi khusus JIA Curated yang menjadi bagian dari permukaan ruang. Sementara itu, Moire Rugs mengolah akar, daun, dan serat alami menjadi tekstil yang menjadi bagian dari lanskap instalasi.

Berbagai elemen tersebut kemudian disatukan oleh Presisi Contractor ke dalam konstruksi paviliun. Fumira, Rafes England, dan Visalux turut melengkapi ruang melalui material pelapis, elemen hardware, serta pencahayaan yang membantu menonjolkan tekstur dan detail dari setiap material.

Rancangan Pavilion Tapak Tumbuh. Sumber: Upandabove

Dengan begitu, setiap kontribusi tidak berdiri sendiri, tetapi saling terhubung untuk membentuk satu pengalaman yang utuh. Pengunjung dapat melihat bagaimana material yang berasal dari alam mengalami berbagai proses hingga akhirnya menjadi bagian dari ruang yang bisa dilihat, disentuh, dan dirasakan.

Keseluruhan pengembangan Tapak Tumbuh juga didukung oleh Up+Above sebagai project management dan marketing communications partner, yang membantu memastikan berbagai proses dan kolaborasi berjalan secara terintegrasi.

Pendekatan ini juga sejalan dengan semangat JIA Curated sebagai platform yang mempertemukan desain, kriya, dan budaya dalam sebuah pengalaman yang imersif. Alih-alih hanya memperlihatkan hasil akhir, Tapak Tumbuh mengajak pengunjung melihat bagaimana sebuah karya terbentuk, mulai dari material yang digunakan hingga proses dan tangan manusia yang ada di baliknya.

Produk Moire Rugs yang ditampilkan. Sumber: Upandabove

Pada 2026, JIA Curated Bali akan hadir dalam skala yang lebih besar dengan lebih dari 70 display, melibatkan sekitar 150 brand dari Indonesia dan mancanegara, serta menempati area seluas lebih dari 10.000 meter persegi. Instalasi penuh “Tapak Tumbuh: A Landscape by MOIRE & Friends” akan dibuka untuk publik pada 13–17 Agustus 2026 di Pantai Pengembak, Sanur, Bali.