Karya seni tak melulu mesti berukuran besar dan megah untuk menarik perhatian. Introducing: tiny painting.
Karya seni tak melulu mesti berukuran besar dan megah untuk menarik perhatian. Introducing: tiny painting.
Tiny is the new Big. Setidaknya itu yang kini tengah trending dalam dunia seni lukis: tiny painting. Tak lagi sebuah lukisan mesti mendominasi dinding atau ruangan sebagai centerpiece untuk mengarahkan sorot mata pengunjung.
Namun sekarang tiny painting perlahan mulai digemari, dengan alasan penempatan pada ruangan yang lebih simpel dan efisien, tak menciptakan kesan stuffy yang justru memberikan ruang untuk bernapas dan untuk pengamatan lebih detail.
“Space Station”, (2021), karya Jennifer J. LeeFoto: Klaus von Nichtssagend Gallery
Beberapa praktisi lukisan mungil termasuk Jennifer J. Lee asal Brooklyn, Amerika, yang baru-baru ini menggelar eksibisi bertajuk “Small Fixations”; Izzy Barber asal New York yang fokus pada air painting berukuran mikro; dan, mungkin yang paling menarik, Hasan Kale asal Istanbul, spesialis “micro art”, yang mampu melukis pada beragam media berukuran kecil (tutup botol, kepala korek api, biji labu, dan sayap kupu-kupu) dengan penuh detail yang luar biasa.
Salah satu karya Hasan KaleFoto: Instagram @hasankale_microangelo
Hasan Kale, yang belajar seni secara otodidak, mengungkap ia memilih medium yang begitu niche karena ia ingin orang untuk memerhatikan objek kecil sehari-hari yang cenderung diabaikan, seperti beras, jarum, kepompong, biji kopi, dan banyak lagi. “Things we usually see can turn into something invisible,” ujarnya. Berkat fokusnya pada karya seni mungil ini Hasan Kale dijuluki “Istanbul’s Microangelo”.
Karya seni mungil sebetulnya bukanlah hal baru. Penelitan sejarah seni telah mengungkap pada abad 15-16 Persia sudah dikenal dengan miniature painting yang diterapkan pada medium kertas (biasanya jadi bagian dari buku) yang bahkan pada dekade tersebut digolongkan sebagai “genre” Pada abad 16 dan 19, elemen miniatur kemudian diterapkan juga sebagai elemen dekoratif untuk manuskrip.
Lantas, kenapa tren tiny painting kembali populer? Beberapa pengamat seni berkesimpulan alasannya mungkin lebih ke ekonomi. Efek pandemi menyebabkan harga melonjak, termasuk biaya materi, sewa studio, dan pengiriman barang – dan efek tersebut tampaknya tetap bergulir paska pandemi.
Walau begitu, tiny painting (atau karya seni lain berukuran mungil) bagi para interior desainer memberikan twist inovatif ke dalam suatu interior. Triknya adalah bagaimana cara memainkan komposisi yang bisa menyalurkan elemen surprise namun yang juga selaras dengan konsep desain secara keseluruhan.
Seperti diungkap oleh desainer interior Taylor Migliazzo, “There’s no such thing as art that is too small.”