Tubuh kita sering kali diperlakukan sekadar sebagai alat, sesuatu yang bekerja otomatis dan membawa kita dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya. Padahal, di dalam tubuh tersimpan ingatan, kebiasaan, nilai, sekaligus kesadaran yang terus bergerak, meski kerap luput kita sadari. Dari pemahaman tentang tubuh sebagai wadah kesadaran yang senantiasa terjaga inilah pameran tunggal Awakened Body: Gorejat Raga karya Haviez Ammar digelar. Pameran ini dibuka pada 16 Januari 2026 di Clove Hotel, dan sejak awal terasa sebagai ajakan pelan untuk kembali mendekat pada tubuh kita sendiri.
Melalui medium pensil di atas kanvas dan media campuran, Haviez mengeksplorasi tubuh manusia sebagai ruang kesadaran, etika, dan pengalaman hidup. Tubuh dalam karya-karyanya bukan tubuh ideal atau heroik, melainkan tubuh yang belajar, patuh, menahan, dan merenung. Gambar-gambarnya tampak padat dan berlapis, dikerjakan dengan ketelitian tinggi. Setiap garis terasa sebagai hasil dari proses yang panjang, seolah tubuh digambarkan bukan hanya sebagai bentuk visual, tetapi sebagai tempat pengalaman hidup disimpan dan diendapkan.

Pengalaman personal Haviez memberi lapisan penting pada pameran ini. Masa remajanya di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, membentuk cara ia memahami tubuh, disiplin, dan kesadaran diri. Nilai-nilai tersebut tidak disampaikan secara naratif, melainkan hadir sebagai suasana yang terasa dalam karya. Tubuh-tubuh yang digambarkan tampak waspada dan terkendali, seperti berada dalam kondisi siaga. Ada ketenangan yang kuat, tetapi juga ketegangan halus yang terus hidup di dalamnya.
Dalam Awakened Body: Gorejat Raga, simbol-simbol visual dari Reog Ponorogo menjadi bagian penting dari eksplorasi tersebut. Bulu merak, dadak merak, dan singo barong tidak ditampilkan sebagai representasi pertunjukan atau ornamen budaya. Simbol-simbol ini diolah ulang menjadi bahasa visual yang surreal dan kontemplatif. Bentuknya terasa akrab sekaligus asing, seperti potongan ingatan yang muncul dari dalam tubuh. Dengan cara ini, Haviez menggeser Reog dari tontonan kolektif menjadi pengalaman batin yang lebih personal dan reflektif.

Pameran ini dikuratori oleh Wildan F. Akbar, yang memandang Gorejat Raga sebagai sebuah laku kesadaran. Tubuh dipahami bukan sekadar bentuk fisik, tetapi sebagai ruang tanggung jawab dan relasi, baik dengan diri sendiri, tradisi, maupun kehidupan sehari-hari. Pendekatan kuratorial ini membuat pameran terasa terbuka dan tidak menggurui. Pengunjung tidak diarahkan pada satu tafsir tertentu, melainkan diberi ruang untuk membangun hubungan personal dengan karya-karya yang ditemui.
“Subtema ini menandai kondisi di mana tubuh senantiasa bergetar dan responsif terhadap dinamika kehidupan. Haviez menempatkan raga sebagai ruang laku, tanggung jawab, dan relasi dengan alam,” jelas Wildan.
Selain karya yang dipamerkan, kolaborasi antara Artventour dan Bormove memperkuat suasana kebersamaan dalam pameran ini. Kehadiran Bormove membawa semangat diskusi dan pembelajaran melalui program seperti Ngaos Seni, lokakarya, dan sesi live drawing. Seni tidak berhenti sebagai objek yang dipajang di dinding, tetapi hadir sebagai proses yang bisa disaksikan dan dialami bersama.

Awakened Body: Gorejat Raga mengajak kita untuk kembali menyadari tubuh sebagai sesuatu yang hidup dan terus bekerja di balik keseharian. Pameran ini tidak menawarkan jawaban pasti, tetapi membuka ruang untuk bertanya dan merasakan bagaimana tubuh menyimpan pengalaman, membentuk kesadaran, dan memengaruhi cara kita hadir di dunia. Pameran ini dapat dikunjungi secara gratis hingga 8 Februari 2026 di Clove Hotel Bandung, sebelum Haviez Ammar melanjutkan perjalanannya ke ZEN1 pada April 2026.
Mau tahu informasi soal pameran karya seni lainnya? Temukan informasinya di sini!