Seni sebagai Respons Krisis Ekologis di Biophilia: Exquisite Corpse

Kita sering mengira persoalan lingkungan terjadi jauh dari ruang hidup kita. Padahal, jejaknya justru bermula dari hal-hal paling sederhana di rumah seperti sisa makanan yang terbuang, kemasan sekali pakai yang terus bertambah, dan sampah yang setiap hari kita keluarkan tanpa banyak pertimbangan. Sejak pandemi, ketika rumah menjadi pusat hampir seluruh aktivitas, peningkatan limbah domestik semakin terasa dan menegaskan bahwa krisis ekologis tumbuh dari kebiasaan kecil yang berlangsung terus-menerus.

Kesadaran inilah yang melatarbelakangi pameran Biophilia: Exquisite Corpse di ISA Art Gallery, Wisma 46, Jakarta. Pameran ini hadir sebagai respons kuratorial terhadap krisis ekologis global yang kian mendesak. Founder dan Director ISA Art Gallery, Deborah Iskandar, melihat lonjakan limbah rumah tangga sebagai titik refleksi untuk menghadirkan seri pameran bertema lingkungan secara lebih konsisten dan terarah. Setelah mengangkat Shattering Illusion pada 2024, tahun ini galeri melanjutkan langkahnya dengan pendekatan yang lebih kolaboratif dan konseptual.

ISA Art Gallery menghadirkan pameran Biophilia: Exquisite Corpse yang mempertemukan sembilan seniman lintas generasi.
ISA Art Gallery menghadirkan pameran Biophilia: Exquisite Corpse yang mempertemukan sembilan seniman lintas generasi. Sumber foto: ISA Art Gallery

Istilah biophilia sendiri memiliki arti cinta terhadap sistem kehidupan, dipahami dalam pameran ini sebagai kesadaran relasional. Manusia tidak berdiri di luar alam, melainkan berada di dalam jaringan ekologis yang saling terhubung. Setiap tindakan membawa konsekuensi, setiap pilihan meninggalkan dampak. Melalui kerangka ini, pameran mengajak pengunjung meninjau kembali bagaimana relasi antara manusia dan bumi seharusnya dibangun, bukan sebagai hubungan yang eksploitatif, melainkan sebagai hubungan yang saling menjaga.

Sedangkan, tema Exquisite Corpse diambil dari metode kolaboratif dalam praktik surealisme yang dipopulerkan kembali melalui kajian Elza Adamowicz pada 1998. Metode ini merangkai potongan gagasan dari individu berbeda menjadi satu komposisi utuh yang tak terduga, namun tetap memiliki keterkaitan internal. Prinsip tersebut diterapkan sebagai strategi kuratorial. Setiap seniman menghadirkan fragmen pemikirannya mengenai bumi, relasi, ekstraksi, dan keberlanjutan. Ketika seluruh karya dipertemukan dalam satu ruang, tercipta dialog kolektif yang berlapis, seolah membentuk satu tubuh besar yang tersusun dari berbagai perspektif.

Pameran ini melibatkan seniman lintas generasi dan medium, di antaranya Teguh Ostenrik, Anang Saptoto, Arahmaiani, Cynthia Delaney Suwito, Dabi Arnasa, Fitri DK, Reza Kutjh, serta Studio Birthplace dan Mater Design Lab. Medium yang dihadirkan beragam, mulai dari instalasi, patung, film, tekstil, fotografi, hingga eksplorasi material eksperimental. Keberagaman ini menegaskan bahwa isu keberlanjutan tidak dapat dibicarakan dari satu sudut pandang tunggal. Ia menuntut pendekatan multidimensi, sebagaimana kompleksitas persoalan lingkungan itu sendiri. Dari sembilan seniman yang terlibat, sejumlah nama telah lama konsisten menyuarakan isu-isu ekologis melalui praktik dan proyek mereka, di antaranya Arahmaiani dan Fitri DK.

Pembukaan pameran Biophilia: Exquisite Corpse. Sumber foto: Dokumentasi ISA Art Gallery

Salah satu karya yang ditampilkan adalah Jimat Anti Tuyul dari Anang Saptoto. Karya ini berangkat dari proyek berkelanjutan Panen Apa Hari Ini atau Pari yang menelusuri sejarah material dan budaya dari kios makanan neneknya. Terbuat dari cabai merah, bawang putih, lada, dan kaca, jimat tersebut merepresentasikan praktik perlindungan ekonomi yang lazim ditemukan di warung tradisional. Dipresentasikan melalui cetakan foto pada akrilik transparan bersama elemen fisiknya, karya ini melampaui tafsir mistis dan memosisikan praktik tersebut sebagai sistem relasi antara pangan, keyakinan, mata pencaharian, dan siklus pertanian. Melalui material yang sederhana, Anang menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi skala kecil pun memiliki keterhubungan erat dengan ekologi yang lebih luas.

Jimat Anti Tuyul karya seniman Anang Saptoto. Sumber foto: Dokumentasi ISA Art Gallery

Fitri DK menghadirkan sejumlah karya, di antaranya Selamatan Bumi dan Tenda Perjuangan, yang berakar pada perjuangan masyarakat Kendeng. Selamatan Bumi terinspirasi dari ritual Kupatan Kendeng, di mana ketupat berbentuk kerucut diarak sebagai bentuk pengakuan kesalahan dan permohonan maaf, tidak hanya kepada sesama manusia tetapi juga kepada Ibu Bumi. Dalam konteks konflik lingkungan di Rembang, gestur ini menjadi pernyataan etis bahwa tanah bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan entitas yang memiliki nilai moral. Sementara itu, Tenda Perjuangan merujuk pada tenda protes warga yang didirikan di lokasi tambang dan kantor pemerintah. Dengan mentransformasi tenda menjadi batik, Fitri menjadikan tekstil sebagai ruang perlindungan sekaligus arsip perjuangan. Kedua karya tersebut menegaskan bahwa keberlanjutan adalah persoalan tanggung jawab kolektif.

Selamatan Bumi dan Tenda Perjuangan karya seniman Fitri DK. Sumber foto: Dokumentasi ISA Art Gallery

Pendekatan yang lebih kontemplatif terlihat pada karya Teguh Ostenrik, Domus Anguillae atau House of Eels. Karya ini berfungsi sebagai terumbu buatan yang terbenam di bawah laut dan terus berubah seiring pertumbuhan organisme serta sedimentasi. Dalam pameran, karya tersebut ditampilkan melalui dokumentasi video yang merekam proses transformasinya di bawah air. Melalui rekaman ini, pengunjung diajak menyaksikan bagaimana patung tidak lagi dipahami sebagai objek statis, melainkan sebagai entitas yang hidup dalam waktu dan berinteraksi dengan ekosistemnya. Perubahan menjadi bagian dari makna, dan waktu menjadi medium yang tak terpisahkan dari karya itu sendiri.

Sejumlah karya dari seniman Teguh Ostenrik yang turut dipamerkan. Sumber foto: Dokumentasi ISA Art Gallery

Refleksi tentang relasi manusia dan kehidupan juga hadir dalam karya terbaru Cynthia Delaney Suwito. Ia memperluas seri Pottered Pots melalui instalasi yang berangkat dari kegagalan berulang dalam merawat tanaman pot agar tetap hidup. Dilatih di Singapura, Cynthia mengumpulkan pot-pot dari tanaman yang telah mati, membentuk semacam arsip personal tentang upaya perawatan yang tak selalu berhasil. Untuk Biophilia: Exquisite Corpse, ia menghadirkan menara vertikal pot setinggi 2,2 meter. Alih-alih menampilkan tanaman hidup, cetakan foto pot asli diintegrasikan ke dalam struktur tersebut.

Instalasi ini terinspirasi dari tipologi perumahan perkotaan di Singapura, khususnya sistem HDB, di mana mayoritas penduduk tinggal di apartemen bertingkat yang terpisah dari kontak langsung dengan tanah. Situasi ini mencerminkan cara tanaman sering kali tumbuh di dalam ruang tertutup, jauh dari tanah yang menjadi asalnya. Karya ini membawa nuansa duka yang tenang, namun menolak pembuangan. Dengan melestarikan pot-pot tersebut dan mereplikasi pertumbuhan melalui gambar, Cynthia merefleksikan bagaimana manusia terus berupaya menumbuhkan kehidupan melalui penggantian, pengulangan, dan produksi massal. Pertumbuhan tetap berlangsung, tetapi dalam bentuk yang dimediasi.

Instalasi dari pot karya Cynthia Delaney Suwito. Sumber foto: Dokumentasi ISA Art Gallery

Secara keseluruhan, Biophilia: Exquisite Corpse 2026 menempatkan seni sebagai ruang refleksi yang jernih sekaligus advokasi yang halus namun tegas. Pameran ini tidak menawarkan solusi instan, melainkan membuka percakapan tentang sustainability dalam praktik seni dan kehidupan sehari-hari. Dari ruang galeri, percakapan tersebut meluas menjadi kesadaran bahwa bumi bukan sekadar latar bagi aktivitas manusia, melainkan sistem hidup yang kita huni bersama dan perlu kita rawat bersama.

Pameran ini dapat dikunjungi di gedung Wisma 46, Jakarta, setiap Selasa hingga Sabtu pukul 11.00 hingga 18.00 WIB, dan tutup pada hari Minggu, Senin, serta hari libur nasional.

Mau tahu informasi soal pameran karya seni lainnya? Temukan informasinya di sini!

SHARE :
WhatsApp
Facebook
Twitter
Email
Artikel Lainnya