Arthur Mamou-Mani Tentang Arsitektur dan 3D Printer

Stella Mailoa

Kita semua mungkin sudah pernah mendengar atau melihat sendiri cara kerja mesin cetak 3D. Mulai dari kacamata hingga kursi dan meja. Namun, bagaimana jika mesin tersebut dibuat untuk menciptakan struktur? Terlebih lagi dengan material ramah lingkungan yang dapat dihancurkan dan dibentuk menjadi struktur lain. Kemungkinannya tidak terbatas.

Arthur Mamou-Mani, seorang arsitek asal Prancis yang menetap dan berkarya di London, adalah salah satu arsitek yang mengeksplorasi kemungkinan tersebut. Ia menggabungkan ketertarikannya terhadap alam dan teknologi ke dalam spesialisasi praktik fabrikasi yang didesain secara digital.

Arthur mamou-Mani

Keunikan praktik arsitekturnya telah membuat Arthur dan tim dapat mewujudkan struktur yang termasuk ambisius dalam ranah arsitektur. Salah satunya ia tampilkan dalam ajang FIND Design Fair Asia di Singapura, yang merupakan bagian dari Singapore Design Week dan diselenggarakan oleh DesignSingapore Council pada bulan September 2023.

Kami berkesempatan mengobrol singkat dengan sang arsitek visioner tentang desain parametrik sampai cara terbaiknya mengumpulkan ide.

Arthur Mamou-Mani dan Teknologi

Written (W): Apa yang membuat Anda tertarik berkarya dengan bantuan teknologi?

Arthur Mamou-Mani (AM): Momen ketika 3D printer semakin mudah didapatkan dan kamu dapat menyusun mesin cetakmu sendiri. Kamu menjadi seperti memiliki hubungan langsung dengan mesin-mesin yang dapat menciptakan desain. Saya merasa ini akan menjadi alat untuk membuat orang terhubung kembali dengan objek di sekitar mereka, dan bagaimana objek tersebut diciptakan.

Saya juga sangat tertarik dengan desain parametrik. Kemampuan untuk menciptakan sistem dan bukan bentuk yang tetap, sehingga sejumlah hal dapat dikustomisasi. Jadi, menggabungkan keduanya, percetakan 3D dan desain parametrik, memiliki potensi yang sangat besar.

W: Seperti yang dapat kita saksikan bersama pada instalasi yang Anda bawa ke FIND Design Fair Asia. Mengapa Anda memilih memamerkannya di sini?

AM: Saya datang ke FIND tahun lalu dan sangat menikmati keberagaman dari berbagai hal yang saya lihat. Saya juga melihat produk ramah lingkungan, serta pemikiran sustainability dan teknologi. Bagi saya, Singapura adalah salah satu pusat inovasi dan salah satu kota yang paling maju. Dan di sini merupakan tempat yang baik (untuk memperkenalkan instalasi ini) karena orang-orang yang datang sangat terbuka dengan teknologi. Saya bertemu dengan orang-orang yang tertarik untuk mengaplikasikan teknologi ini dalam arsitektur, landscaping, dan tata kota.

arthur mamou-mani

W: Sebagai seorang arsitek, seperti apa rutinitas Anda sehari-hari?

AM: Saya tinggal di London di rumah yang saya bangun bersama istri saya. Rumah ini merupakan tempat yang spesial karena menjadi tempat kami bereksperimentasi dengan berbagai material. Setiap hari saya bangun di pagi hari dan menikmati kreasi tersebut.

Lalu saya naik sepeda ke studio saya yang jaraknya dekat rumah di East London. Kami memiliki tim berjumlah 40 orang, jadi kami meeting untuk update pada setiap proyek yang dikerjakan. Kami juga mengecek hasil mesin cetak kami karena biasanya dinyalakan semalaman. Lalu setelah itu kami memulai proses kreatif kolektif. Seharian berkeliling antara kantor dan tempat fabrikasi.

W: Anda tadi menyebut bahwa mengecek hasil cetak sebagai salah satu dari rutinitas. Anda mencetak setiap hari?

AM: Kami memiliki banyak printer di kantor dari skala kecil sampai sangat besar. Kami juga punya mesin penghancur. Setiap hari kami selalu melihat kejutan dari beragam printer tersebut. Terkadang printer dapat menghasilkan hal-hal yang tidak terduga, sehingga kami selalu tertarik untuk melihat kejutan itu dan membuat desain baru. Ketika ada sebuah “kegagalan”, kami tidak melihatnya sebagai sebuah kegagalan tapi sebuah potensi untuk invoasi. Jadi kami mengerjakan kembali desainnya. Yang kamu lihat di sini adalah hasil dari 15-16 kali pembaruan desain. Proses ini yang sangat menarik.

“When we see a ‘failure’, we don’t consider it a failure but a potential for an innovation”
arthur mamou-mani
The Wooden Waves di Buro Happold. Foto: Lorenzo Vianelli

W: Dalam keadaan seperti apa Anda menghasilkan kreasi terbaik?

AM: Pertanyaan ini sulit dijawab karena bagi saya pekerjaan saya itu memiliki aspek yang berbeda-beda. Ada proses imajinasi dan berpikir yang saya lakukan dengan sangat baik saat sedang berjalan. Saya terkadang merekam diri saya sendiri saat memikirkan sebuah konsep. Dan melalui rekaman itu saya mencoba mengartikulasikan pemikiran itu dan dapat mewujudkannya. Ini adalah proses menghasilkan ide.

Namun ketika harus mewujudkan ide tersebut, saya bekerja sangat baik ketika bersama tim saya. Memanifestasikan ide itu dan saling berbagi dengan tim. Saya bekerja dalam set kantor dengan peralatan di sekitar saya yang memungkinkan saya untuk menciptakan bersama tim.

Konsep Circular Way of Life

W: Seberapa penting konsep “circular way of life” bagi Anda?

AM: It’s the heart of it. Orang-orang mungkin berpikir bagi para arsitek, ketika sebuah ide datang, lalu kamu melakukannya. Padahal tidak seperti itu. Arsitektur itu sangat sirkular. Saya akan belajar dari output sebuah proyek, lalu proyek itu kemudian akan mengambil bentuk yang baru berdasarkan apa yang sudah kami pelajari. Sangat sulit untuk menentukan bahwa proyek ini mulai di sini dan berakhir di sana.

Ini adalah lokasi kedua proyek (instalasi) ini, dan kami akan membawanya ke tempat ketiga. Setelah itu mungkin saja kami menghancurkannya dan mencetaknya untuk menjadi sebuah geometri baru. Saya ingin orang untuk mengerti bahwa mereka dapat menjadi bagian dari lingkaran tersebut.

Saya ingin sekali memiliki sebuah toko mungkin di London atau Singapura, tempat orang tidak hanya membeli sesuatu, tapi terlibat dalam proses pembuatan dan hasil akhirnya. Jadi saya ingin memiliki mesin cetak 3D dan penghancur di toko itu. Setelah itu orang bisa membawa barang lamanya, dan dicetak menjadi objek lain. Jadi orang tidak hanya membeli, menggunakan, lalu dibuang.

W: Kita pernah melihat atau mendengar teknologi mesin cetak 3D tapi biasanya hanya membuat barang kecil.

AM: Ya, seringkali hanya digunakan untuk objek kecil seperti kursi.

W: Pesan apa yang ingin Anda sampaikan kepada para arsitek dan desainer lewat struktur yang Anda cetak dengan mesin 3D?

AM: That anything is possible. Saya ingin para arsitek dan desainer tahu bahwa mereka tidak dibatasi hanya dengan menggunakan kembali barang yang sudah di-prepackaged untuk mereka. Mereka dapat memiliki ide dan dapat mewujudkannya melebihi dari apa yang tersedia sekarang. Saya melihat banyak halangan dalam industri ini. Seperti sebuah produk hanya memiliki ukuran tertentu, atau tidak memiliki sertifikasi ini itu.

Saya adalah seorang arsitek berdasarkan pelatihan yang saya terima, tapi saya menciptakan FabPub untuk membagikan sumber daya yang kami miliki dan untuk menciptakan komunitas. Daripada arsitek yang terpisah secara individual. Saya ingin komunitas ini berkembang dan orang yang memiliki ide-ide liar untuk bersatu.

Alam adalah sumber inspirasi yang paling memukau. Kamu bisa jalan di sebuah hutan dan memerhatikan geometri yang luar biasa. Bagaimana jika kreativitas kita dapat mencapai level sophistication seperti itu? Dan ada banyak rintangan mengapa kita belum bisa mencapai level itu saat ini.

Jadi saya ingin membuka perspektif desainer dan masyarakat bahwa kamu bisa membuat bentuk alami, sistem yang terlihat seperti alam, menggunakan biomaterial, dan lainnya. Saya harap komunitas ini dapat berkembang dan memiliki dampak yang lebih luas.

“Ultimately, nature is the greatest source of inspiration. What if design can be that? What if creativity could reach that level of sophistication?”
3D printer

W: Mesin cetak 3D Anda ini dapat dikirim kemana-mana agar orang bisa melihat langsung proses cetaknya. Apakah Anda juga memikirkan seberapa sustainable prosesnya?

AM: Alasan mengapa kami ingin mencetak secara lokal langsung di lokasi bersangkutan adalah untuk menghindari harus mengirim seluruh struktur. Tujuan kami adalah memiliki mesin ini langsung di area proyek dan mencetak struktur on site. Kami memuat mesin dan robot di dalam kontainer untuk membuat mobile factory kami.

Kita begitu terbiasa dengan pengiriman material dari pabrik di luar negeri yang dapat mengalami gangguan supply chain, dan lain sebagainya. Saya ingin menunjukkan kepada komunitas lokal untuk melihat bagaimana sebuah struktur dibuat, memiliki pendapat tentang desainnya, dan mengetahui prosesnya. Idealnya, saya ingin memiliki komunitas desainer global dan memproduksi secara lokal di kota-kota berbeda.

Tentang hal pengiriman, kami saat ini sedang mengerjakan sebuah proyek balon helium bernama The Flying Whale di Prancis. Balon helium raksasa ini nantinya dapat mengirim barang sebagai transportasi alternatif yang netral karbon.

the flying whale
The Flying Whale

W: Seberapa jauh balon itu dapat mengirim barang?

AM: Oh, cukup jauh. Walaupun prosesnya lambat dibanding mengirim barang dengan pesawat. Kamu dapat melihatnya seperti pengiriman dengan truk. They’re the trucks of the sky. Balon ini aman, tidak dapat tabrakan, dan tidak beracun. Sebagai arsitek yang ingin membawa barang ke area yang terpencil, balon ini punya potensi yang sangat baik.

W: Kembali ke mesin cetak 3D. Apakah ada batasan tertentu, seperti dalam hal material misalnya?

AM: Saat ini kami sangat tertarik dengan bioplastik. Yang kamu lihat sekarang (di pameran FIND) ada yang terbuat dari gula tebu yang dicampur dengan pigmen berbeda, lalu dari sisa kayu yang dicampur dengan bubuk kopi dan pigmen alami. Saya sangat semangat untuk mengeleminasi plastik secara umum dan mikroplastik, dan zat-zat beracun lainnya dalam plastik, yang saya rasa bisa dilakukan dengan PLA (Polylactic Acid) yang terbuat dari tebu. Kami juga melihat material lain seperti keramik, konkret, dan lainnya. Namun material organik membutuhkan perhatian lebih sebagai desainer dan arsitek, karena mereka dibuang terlalu cepat.

The Wavery London
Fortnum & Mason – The Wavery

W: Terakhir, disiplin lain apa yang Anda ingin ajak berkolaborasi? Mengapa?

AM: Wow. Mungkin, makanan. Kami pernah membuat bar dan restoran 3D, tapi saya rasa masih banyak potensi yang masih dapat digali. Jika kamu memikirkan ragam tekstur, kepadatan, yang jika diaplikasikan pada makanan, kamu dapat menemukan banyak kejutan.

Kamu dapat menciptakan dari yang paling lembut sampai keras, dari yang berpori besar sampai yang solid, jadi kamu dapat mengalami dengan seluruh indra. Saya ingin bekerjasama dengan chef dan mewujudkannya. Kami mungkin akan melakukannya. Dan ini juga dapat membuat istri saya bangga karena dia selalu ingin saya memasak untuk dia 😀

SHARE :
WhatsApp
Facebook
Twitter
Email
Artikel Lainnya